HUBUNGAN AIR, TANAH DAN TANAMAN

18 Nov

HUBUNGAN AIR, TANAH DAN TANAMAN

Pengetahuan tentang air, tanah dan tanaman dalam rangka mengairi tanaman palawija dan hortikultura adalah sangat penting. Hal ini tidak hanya berguna dalam usaha efisiensi penggunaan air irigasi, tetapi juga terhadap pertumbuhan tanaman yang diairi.  Karena beberapa jenis tanaman palawija dan hortikultura tidak tahan terhadap penggenangan untuk periode waktu tertentu.

Pengelolaan air perlu disesuaikan dengan sumber daya fisik alam (tanah, iklim dan sumber air) dan biologi dengan memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk membawa air ke daerah perakaran tanaman sehingga mampu meningkatkan produksi tanaman (Nobe dan Sampath, 1986).

Sasaran dari pengelolaan air adalah tercapainya empat tujuan pokok, yaitu

  1. Efisiensi penggunaan air dan produksi tanaman yang tinggi,
  2. Efisiensi biaya penggunaan air,
  3. Pemerataan penggunaan air atas dasar sifat keberadaan air yang selalu ada tapi terbatas dan tidak menentu kejadian serta jumlahnya,
  4. Tercapainya keberlanjutan system penggunaan sumberdaya air yang hemat dan ramah lingkungan.

 

Secara fisik air tanah (lengas tanah) dibagi menjadi air grafitasi, air kapiler dan air higroskopis.  Air gravitasi adalah bagian dari air tanah yang tidak dapat ditahan oleh tanah dan mengalir secara bebas karena pengaruhgayagravitasi.  Jumlah air yang ditahan oleh tanah setelah air gravitasi habis disebut air kapasitas lapang, dengan besarnya tekanan sekitar 1/3 atmosfer.

Air kapiler adalah bagian air tanah yang ditahan oleh tanah, yang terletak diantara kapasitas lapang dan koefisien higroskopis.  Sedangkan koefisien higroskopis itu sendiri adalah suatu keadaan dimana air tanah mulai kehilangan sifat-sifat cairan, dan ditahan oleh tanah dengan tegangan sampai 31 atmosfer. Air kapiler ini mengisi pori-pori tanah.  Air kapiler dapat berasal dari hasil infiltrasi air dari permukaan tanah kemudian meresap kedalam tanah dan tertahan diatara butir tanah karena pengaruhgayakapiler tanah atau bisa juga berasal dari air dalam tanah (dari zona jenuh) yang naik ke atas melalui pori-pori tanah akibat pengaruhgayakapiler tanah.  Besarnya air kapiler dalam tanah akan sangat tergantung pada sifat fisik tanah.

Air higroskopis adalah bagian air yang ditahan oleh tanah setelah dicapai koefisien higroskopis.  Air higroskopis ini terjadi karena adagayakohesi dan adhesi pda lapisan tipis air yang menyelimuti partikel-partikel tanah dengan tegangan diatas 15 atmosfer.

Secara biologis, air tanah dibedakan berdasarkan pada ketersediaannya bagi tanaman.  Atas dasar itu, maka air tanah dibedakan menjadi air tidak berguna, air tersedia dan air tidak tersedia.  Air tidak berguna adalah bagian dari air tanah, berupa air bebas atau air gravitasi,.  Air tersedia adalah air yang berada diantara kapasitas lapang dan titik layu.  Sedangkan air tidak tersedia adalah bagian air tanah dibawah titik layu dimana air ditahan oleh tanah dengan tegangan yang sangat besar sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman

Kapasitas lapang adalah keadaan kelembaban tanah yang relative mantap dan biasanya dicapai beberapa hari setelah tanah mengalami pembasahan total atau keadaan jenuh air.  Pada kondisi ini tegangan air biasanya sekitar 1/3 atmosfer atau setara dengan nilai pF 2,54.  Titik layu dapat didefinisikan sebagai tingkat kelembaban tanah dimana akar tanaman tidak lagi mampu menyerap air, dengan tegangan rata-rata 15 atmosfer atau setara dengan nilai pF 4,2.

 

Beberapa sifat tanah yang penting dalam hubungannya terhadap peranan air bagi pertumbuhan tanaman adalah tekstur, porositas dan struktur.

  1.  Tekstur Tanah

Yang dimaksud dengan tekstur tanah adalah perbandingan kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam suatu masa tanah.  Pada kenyataannya tanah terdiri dari bagian-bagian kecil atau yang disebut partikel tanah yang dapat dibedakan  menjadi tiga bagian pokok yaitu pasir, debu dan lempung serta bahan organic.  Menurut ketentuan USDA (United State Departement of Agriculture), ukuran partikel tanah dibedakan dalam ukuran garis tengahnya menjadi :

Jenis Partikel

Ukuran garis tengah (mm

Pasir sangat kasar

2,0 – 1,0

Pasir kasar

1,0 – 0,5

Pasir sedang

0,5 – 0,25

Pasir halus

0,15 – 0,10

Pasir sangat halus

0,10 – 0,05

Debu

0,05 – 0,002

lempung

<  0,002

 

Kenyataan dalam tanah, masing-masing partikel penyusun tanah tidak berdiri sendiri-sendiri akan tetapi merupakan satu kesatuan kelompok, terdiri dari beberapa partikel tanah yang diikat oleh bahan perekat yang berupa koloid tanah, senyawa besi, almunium dan lain-lain.  Yang selanjutnya kesatuan kelompok ini disebut menjadi agregat tanah.

  1. Struktur tanah

Struktur tanah dapat diartikan sebagai bangun atau bentuk alami dari beberapa agregat tanah, yang merupakan satu kesatuan bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang.  Struktur tanah mempengaruhi banyak sedikitnya aliran air dan pergantian di dalamnya serta kedalaman perakaran dan kemampuan tanah untuk dapat memberikan unsure haranya kepada tanaman. Oleh karena itu struktur tanah berpengaruh terhadap tersedianya air dalam tanah, aktivitas mikrobia, penetrasi akar dan sebagainya.  Selain itu keadaan struktur dan tekstur tanah akan menentukan besarnya permeabilitas tanah, yang selanjutnya akan mempengaruhi laju infiltrasi dan laju perkolasi.

  1. Porositas tanah

Porositas tanah merupakan perbandingan jumlah  pori-pori tanah yang dapat diisi oleh air atau udara terhadap volume keseluruhan contoh, dalam satuan persen, atau ditulis dalam persamaan

  1. Konsistensi Tanah keteguhan tanah

Konsistensi tanah memperlihatkan pengaruh darigayaadhesi dan kohesi bagian-bagian tanah baik dalam keadaan kering, lembab maupun basah.  Konsistensi tanah diperlukan dalam menentukan kapan tanah akan diolah.  Hal ini berkaitan dengan besar kecilnya kebutuhan tenaga yang diperlukan untuk mengerjakan tanah tersebut, terutama untuk mengolah tanah dengan system kering.

Dasar penentuan konsistensi tanah adalah : mudah tidaknya tanah hancur, daya lekat dari tanah, keliatan tanah, dan ketahanan tanah terhadap ekanan.

 

 

kohesi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Keadaan air dalam tanah

Apabila tanah memperoleh air baik air hujan maupun air irigasi maka air tersebut akan berproses sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan : I/H  :  Irigasi atau air hujan,  E : Evaporasi,  Rf  :Run Off,  Inf : Infiltrasi,  P : perkolasi

Banyaknya masing-masing komponen tersebut bergantung pada banyak factor antara lain : sifat tanah (tekstur dan struktur), kemiringan tanah, dalamnya daerah perakaran tanah, banyaknya air yang diberikan, iklim , dan lain-lain.

  1. Kandungan Lengas tanah

Kandungan lengas tanah dapat dibedakan menjadi lengas higroskopis, air kapiler,  dan air grafitasi.  Banyaknya air yang dapat diikat oleh tanah tergantung kepada tekstur, struktur, dan kandungan bahan organic.  Sedangkan banyaknya air yang dapat diambil oleh perakaran tanaman tergantung pada daya tahan atau daya ikat agregat-agregat tanah terhadap air.  Terikatnya air di dalam pori-pori dan agregat tanah dapat terjadi karena adanyagayakohesi (daya ikat antar molekul aor) dangayaadhesi (daya ikat antara mol air dan partikel tanah).

Daya ikat tanah terhadap air dinyatakan dengan istilah pF.  harga p.Fadalah logaritma dari tinggi pipa air dalam cm yang ditahan oleh tanah. Harga pF berkisar antara 0 pada tanah jenuh dan 7 pada tanah kering, dan yang baik bagi tanaman adalah 2 – 4,0 yaitu keadaan air optimal untuk tanaman. Misalkan segumpal tanah lembab dapat menahan pipa air setinggi 100 cm, maka daya isap tanah terhadap air  sama dengan pF = log 100 = 2.

 

 

  1. Gerakan air kapiler

Yang dimaksud gerakan air kapiler adalah pengisian lengas tanah yang berasal dari tanah bagian bawahnya.  Gerakan ini dapat berupa hubungan langsung dengan air tanah (groundwater) atau gerakan ka[iler dari bagian bawah ke garian lebih atasnya.sedangkan gaya yang menyebabkan pergerakan air kapiler adalah karena adanya pembentukan tekanan pFakibat penguapan dan absoprsi air oleh tanaman dan apabila tidak ada penambahan air oleh hujan atau irigasi maka lapisan tanah bagian atas kandungan airnya lebih kecil dari kandungan air dibawahnya sehingga terdapat perbedaan tekanan.. pergerakan air kapiler terjadi dari lapisan tanah yang mempunyai pF rendah ke lapisan tanah yang mempunyai pF tinggi.  Dengan adanya gerakan air kapiler ini maka kebutuhan air dilapisan perakaran tanamandapat dipenuhi oleh air dari dalam tanah

 

MENGUKUR KADAR AIR TANAH

1. Status Air Dalam Tanah

Tanah terdiri dari empat fraksi; partikel mineral dan benda organik mati yang membentuk matrik, serta larutan tanah dan udara yang mengisi ruangporimatrik.

Air tanah sebagian besar ditahan oleh potensial matrik, air terjerap oleh permukaan partikel tanah, dan hanya sedikit yang terikat secara osmosis karena terlrutnya garam mineral dalam tanah.

Ketersediaan air bagi tanaman tergantung kepada potensialnya dan konduktivitas hidrauliknya. Air yang siap untuk dimanfaatkan oleh tanaman terdapat antara kapasitas lapang dan titik layu permanen. Air ini sering disebut air kapiler. Kapasitas lapang adalah kandungan air tanah yang tercapai setelah gerak air gravitasi sudah berheti dengan potensial air dibawah –3 bar. Kandungan air tanah dimana terjadi tingkat kelayuan tanaman yang tidak dapat balik, dikenal sebagai titik layu permanen, dan biasanya mempunyai potensial air antara –10 s/d –20 bar. Nilai yang tepatnya sangat tergantung kepada jenis tanaman dan kondisi dimana tanaman itu tumbuh. Air yang tertinggal dalam tanah, yang tidak tersedia bagi tanaman, dikenal sebagai air hogroskopis dan air yang terikat secara kimia. Jumlah air higroskojs berbeda–beda tergantung partikel mineral tanah seperti liat dan organik.

 

Air gravitasi berlebihan                Air kapiler tersedia               Air higroskopis tak tersedia
koasitas lapang

Gambar 1. Ketersediaan Air Bagi Tanaman

Di lapangan matrik potensial dapat diatur langsung sampai –0,8 bar, dengan tensiometer, dan nilai yang lebih rendah dari itu dapat diestimasi dari hasil kalibrasi pembacaan alat tahanan listrik. Di laboratorium dapat diukur sampai –25 bar atau lebih rendah lagi dengan  menggunakan alat plat tekan atau membran tekan (pressure plates and pressure membran apparatus).

Potensial zat terlarut dapat diukur secara krioskopis dari ekstrak tanah. Pengukuran keduanya (matrik dan zat terlarut) dapat dikerjakan langsung dengan menggunakan psikometer termoganda, atau secara tak langsung yaitu dengan menjumlahkan potensial matrik dengan potensial zat terlarut.

Metoda terbaik untuk menggambarkan karakteristik suplai air suatu jenis tanah adalah membuat kurva hubungan antara potensial air tanah dengan kandungan air.   Dua nilai status air tanah yang berharga adalah kapasitas lapang dan persen layu permanen, karena mereka merupakan batas bawah dan batas atas  dari air yang tersedia bagi tanaman.   Potensial air pada kapasitas lapang adalah sekitar –0,3 bar dan pada persen layu permanen adalah sekotar –5 bar. Tidak ada nilai yang benar-benar definitif; kesemua itu hanya nilai pendekatan.

Percobaan yang mensyaratkan potensial air yang tetap mempunyai nilai tertentu di bawah kapasitas lapang, tidak mungkin dilakukan pada percobaan skala besar. Dalam hal demikian, biasanya percobaan cekaman air dilaksanakan dengan cara menurunkan kandungan air sampai pada dekat batas persen layu permanen, kemudian diairi kembali      sampai mencapai kapasitas lapang. Cara ini memberikan berbagai tingkatan cekaman.  Tanaman kecil dapat ditanam di dalam wadah ceper berdinding semi permeabel, kemudian berulangkali dicelupkan ke dalam larutan polyethelen glycol yang mempunyai nilai potensial air yang berbeda. Kadang-kadang suatu tingkat cekaman tertentu yang uniform dapat dipertahankan dengan cara menanam tanaman dalam larutan hara ditambat zat terlarut sampai menghasilkan nilai potensial air yang diinginkan. Polythelene glycol berberat melolekul tinggi nampak cocok untuk keperluan ini karena tidak atau sedikit sekali terabsorpsi, relatif tidak berbahaya bagi tanaman dan sedikit sekali diserang mikroorganisma.

  1. 2.    Infiltrasi

Infiltrasi adalah gerakan air masuk ke dalam tanah. Laju infiltrasi air ke dalam tanah, dalam hubungannya dengan pengisian kembali tanah oleh air hujan atau oleh air irigasi, sangat penting.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah ; kandungan air awal, permeabilitas permukaan tanah, kondisi internal seperti ruangporidan kemerekahan koloid tanah, serta kandungan bahan organik tanah, juga lamanya air hujam atau pemberian air irigasi. Laju gerak air menembus tanah atau konduktivitas hidrolik, berkurang dengan makin berkurangnya ruangpori.

Gerak air menembus tanah pada status air di atas kapasitas lapang terutama dikendalikan oleh potensial gravitasi, dan pot ensial matrik pada status air di bawah kapasitas lapang. Konduktivitas hidraulik menurun dengan dengan cepat dengan semakin menurunnya potensial air, sehingga gerak air sangat lambat pada tanah kering dan praktis berhenti pada potensial air sekitar –15 bar. Pada tanah yang sangat kering, air hanya bergerak sebagai uap. Perbedaan temperatur antara permukaan tanah dengan horizon yang lebih dalam mampu menggerakkan air (uap) ke atas pada musim dingin dan ke bawah pada musim panas .

Pergerakan air tanah jauh di bawah zona akar pada potensial air di bawah kapasitas lapang nampaknya lebih banyak dari yang diduga semula. Bila dalamnya permukaan air tanah sekitar satu meter, gerak air ke atas cukup memadai untuk kebanyakan tanaman.

  1. 3.    Teknik Pengukuran Kadar Air Tanah

Kemampuan mengukur mengendalikan suplai air tanah kepada tanaman merupakan dasar untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, juga dasar untuk telaah lebih lanjut mengenai hubungan antara air dan tanaman. Besaran terbaik untuk mengukur ketersediaan air bagi tanaman adalah potensial air.    Komponen utama dari potensial air tanah adalah potensial matrik dan potensial zat terlarut.

Di daerah humida potensial matrik merupakan komponen utama, akan tetapi di daerah arid potensial zat terlarut atau potensial osmosis seringkali merupakan komponen penting dalam total potensial air tanah.

Penentuan banyaknya air dalam tanah yang tersedia bagi tanaman.

Mengetahui banyak air dalam tanah yang tersedia bagi tanaman adalah penting sekali terutama dalam hal penentuan pemberian air (pengairan) pada tanaman agar supaya tidak berlebihan atau kekurangan.

Banyaknya air yang tersedia bagi tanaman dicari dengan jalan penentuan kandungan air pada keadaan kapasitas lapang (pF 2,54) dikurangi dengan % kandungan air pada keadaan titik layu permanen (pF 2,4). Dalam hal ini nilai-nilainya sangat  ditentukan terutama oleh tekstur tanah. Tekstur yang lebih halus memiliki nilai kandungan air lebih tinggi, sebaliknya tanah dengan tekstur lebih kasar nilai-nilainya akan lebih rendah        i

1. Alat :

  1. Core sampler/ring sample lengkap dengan pegangan penekanannya,
  2. Cangkul / skop dan pisau tajam tipis,
  3. Bak perendam terbuat dari logam (moisture tin),
  4. Pot tempat tanaman precobaan,
    1. Pressure membrance apparatus atau tabung gelas dengan skat dari keramik untuk penentuan pF.
    2. Oven pengeringan (105O C) lengkap dengan gelas timbangan.
    3. Alat pendingi eksikator,
    4. Timbangan analitik.

2. Bahan : Tanah utuh

3. Langkah Kerja:

1)  Contoh tanah utuh (undiaturbed soil) yang diambil pada praktikum no. 3 di atas kem udian direndam setengah bagiannya dengan air pada bak perendam selam 24 jam. Hal ini dengan maksud agar seluruh pon tanah baik mikro maupun makro seluruhnya diisi dengan air sehingga dikatakan jenuh.

2)   Setelah 24 jam direndam maka contoh tanah ini kemudian dipindahkan ke dalam tabung gelas dengan skat dari keramik untuk diisap dengan kekuatan 1/3 atm, atau dengan daya           isap 346 cm kolom air. Dalam hal ini tidak dapat dilaksanakan. Maka cukup dengan mengangkat contoh tanah utuh ini dari rendaman air kemudian membiarkan air merembes turun karenagayagravitasi sampai air tidak menetes lagi, hal ini biasanya dicapai setelah 46 jam atau lebih.

3)    Setelah tercapai keadaan kapasitas lapang, maka contoh tanah ini ditimbang 10-20 gram kemudian ditentukan kandungan airnya dalam oven pengering.

4)    Untuk penentuan kandungan air pada keadaan titik layu permanen, yaitu dengan jalan contoh tanah yang sudah jenuh tadi dimasukkan ke dalam alat penetapan pF 4,2. Kalau cara ini tidak dapat dilakukan maka dengan percobaan tanaman pada pot sampai tanaman itu mulai layu permanen.   Kemudian tanahnya ditentukan kandungan airnya, selain dari itu secara kasar juga ditentukan dengan jalan menggunakan kurva pF asal teksturnya dapat diketahui dengan pasti, maka % kandungan air pada keadaan titik layu permanen secara kasar dapat ditentukan.

5) Banyaknya air dalam tanah yang tersedia bagi tanaman ditentukan dengan jalan % kandungan air pada kepastian lapang dikurangi dengan % kandungan iar pada keadaan titik layu permanen.

 

 

 

 

 

 

MENGAIRI TANAMAN

1. Proses Kehilangan Air

Proses kehilangan air pada waktu mengairi tanaman atau wilayah pertanian, sangat mempengaruhi banyaknya kebutuhan air untuk pengairan. Adapun faktor-faktor utama dimaksud adalah;

a. Tanah;

  1. Jenis tanah yang banyak mengandung pasir akan lebih banyak memerlukan air pengairan dibandingkan dengan tanah dengan kandungan liat tinggi.
  2. Kedalaman permukaan air tanah yang dangkal akan mereduksi kebutuhan air pengairan, akan tetapi bila terlalu dangkal maka proses pembuangan air melalui saluran drainase akan menimbulkan masalah.

3. Kemiringan tanah akan sangat menentukan penambahan jumlah air yang hilang dibandingkan dengan tanah yang datar/

b. Iklim;

Pada musim kemarau akan menyebabkan meningkatnya proses kehilangan air akibat evapotranspirasi dari tanah, permukaan air, dan tanaman. Peresapan air ke dalam tanah akan semakin meningkat akibat retakan tanah yang melebar.

c. Pengolahan tanah;

Tujuan pengolahan tanah adalah merubah sifat fisik/mekanik tanah agar sesuai dengan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman yang baik. Pengolahan tanah yang intensif pada tanah yang sudah gembur akan mendorong proses kerusakan tanah dan erosi, yang berakibat pada meningkatnya proses kehilangan air.

. Perhitungan Kebutuhan Air Bagi Tanaman

2.1. Kebutuhan air untuk padi

Tanaman memerlukan air untuk kehidupan, keperluan, keperluan air ini dapat diperoleh tanaman melalui air hujan dan/atau air irigasi.

Air hujan ( R ) dan/atau irigasi ( I ) yang masuk ke dalam petakan sawah akan digunakan oleh tanaman untuk transpirasi dan karena panas sinar matahari permukaan air dan tanah juga melepaskan air yang disebut evaporasi (E).

Gambar 3. Skema Proses Penggunaan Air

Air yang berada pada areal tanaman atau sawah juga merembes ke bawah, proses ini disebut Infiltrasi (If) dan perembesan diteruskan ke lapisan tanah lebih bawah disebut Perkolasi (P). Air juga merembes ke samping disebut Seepage (S), akhirnya air yang berkelebihan akan dialirkan ke saluran pembuangan dan proses ini disebut Drainase (D).

Air yang diperlukan untuk F dan P disebut “consumptive use”, sedangkan air yang diperlukan untuk F, T dan P disebut kebutuhan air untuk tanaman (Water Requirement = Wr). Curah hujan yang dapat dimanfaatkan untuk F, T dan disebut curah hujan efektip.

Kebutuhan air untuk      tanaman dihitung dalam liter/det/ha atau m3/hari/ha
atau dapat juga dihitung dalam mm. (cm)/hari.

Untuk menghitung kebutuhan air di lapangan dan           it yang diperlukan pada
pintu pemasukan dapat digunakan rumus sebagai berikut :

Q1     = H X A x 1

T

Q2        = Q 1 1

86.400       (1 – L)

di mana :        Q 1    = Kebutuhan harian air di lapangan dalam m3/hari.

Q2      = Kebutuhan harian air pada pintu pemasukan m3/detik.

H        = Tinggi penggenangan dalam meter

A         = Luas areal sawah dalam ha

T         = Interval pemberian air dalam hari

L         = Kehilangan air di lapangan dan saluran.

Dengan rumus di     atas dapat dihitung konversi satuan liter/detik/ha menjadi
mm/hari.

Misal :        Q = 1 lt/det         = 0,001 m3/det.

= 86.400 m3/hari.

A = 1 ha

T = 1 HARI

Q = H X A x 10.000

T

86,4     = H X     1 x 10.000

1

H = 86.400 = 0,0864 m/hari = 8,64 mm/hari

10.000

 

 

Perbandingan berbagai satuan kebutuhan air tersebut sebagai berikut :

l/det/ha cm/hari mm/hari m3/hari/ha
1,000 0,864 8,640 86,400
1,16 1,00 10,00 100,00

 

Di bawah ini contoh perhitungan kebutuhan harian air di lapangan dan pada pintu pemasukan.

Luas tanaman yang akan diairi 53,47 ha.

Hitung kebutuhan air di lapang dan pintu pemasukkan menggunakan ketentuan–ketentuan sebagai berikut :

-     Interval rotasi : 4,5 hari

-     ETP hingga tanaman berumur 30 hari adalah 10 mm/hari

-     ETP setelah tanaman berumur 30 hari adalah 12 mm/hari

-     Kehilangan air di lapangan dan saluran 20%.

Perhitungan :

Q1 = H x A x 10.000

naman hingga umur 30 hari.

A = 53,47 ha

Q1 = 0,045 x 53,47 x 10.000 = 5,347 m3/hari

(2). Kebutuhan air setelah tanaman berumur 30 hari.

T = 4,5 hari                  L = 20%

H = 4,5 x 12 mm = 45 mm = 0,045 m.

A = 53,47 ha

Q1 = 0,054 x 53,47 x 10.000 = 6,416 m3/hari 4,5

= 0,0743 m3/h

Q2 = 6,416         x 1                = 0,0928 m3/de i

86,400      (1-0,2)

2.2. Menghitung Kebutuhan Air Untuk Suatu Daerah

Air yang dialirkan untuk suatu daerah pengairan adalah lebih besar dibanding dengan air yang dipakai untuk tumbuh tanaman di daerah itu.  Adapun sebabnya ialah banyak air yang hilang di jalan karena saluran-­saluran air yang bocor, menguap dan lain-lain, sehingga tidak sampai ke daerah yang dituju.  Untuk menghitung jumlah      air yang harus diberikan ke daerah tertier, perlu
diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. luas masing-masing macam tanaman
  2. kehilangan air di perjalanan.

Kehilangan air terbanyak adalah di saluran tertier.

Contoh I.

Dalam suatu daerah ranting dalam musim kemarau terdapat tanaman gadu.

Izin ………………………………………………………….     100 ha

Tanaman gadu tanpa izin …………………………..    20 ha

Tanaman tebu …………………………….. .          60 ha

Tanaman palawija …………………………………….    40 ha

Pemberian air pada padi gadu 1. l/ha/s.

Perbandingan air untuk padi, tebu, palawija     = 8 : 3 : 2.

Berapakah banyaknya           air yang           harus dialirkan ke saluran tertier ? Kehilangan air 20%.

 

 

 

 

 

Jawab :

  1. padi gadu izin
  2. padi gadu tanpa izin
  3. tebu
  4. palawija

Jumlah                                 = 137,5 l/s.

Jumlah air yang harus dialirkan      = 100 x 137,5 l/s

80

= 171 ,875 l/s.

= 172 l/s. (dibulatkan).

Contoh II.

Di suatu daerah pengairan dalam musim kemarau menurut rencana pertanaman ada :

Padi gadu izin                              = 1500 ha

Tebu                                            = 500 ha

Palawija                                       = 800 ha

Padi gadu tanpa izin                = 50 ha

Berapa banyaknya air yang harus dialirkan ke dalam daerah pengairan ? Diketahui :  a. jatah padi gadu 1 l/ha/s.

  1. perbandingan 4 : 2 : 1
  2. kehilangan air di saluran primari 10 %, sekundair 15% tertier 20%.

Jawab :

Air untuk padi dalam ha           = 100 x 1 l/s = 1,42 l/s.

71

Padi gadu izin                 1500 x 1,42 l/s           = 2130 l/s.

Padi gadu tan pa izin      50 x 1/4 x 1,42 l/s      =       17,75 l/s.

Tebu                               1500 x 1/4 x 1,42 l/s  = 355          l/s.

Palawija                          800 x 1/4 x 1,42 l/s    = 284          l/s.

= 2786,75 l/s.

Air yang diberikan ke dalam saluran 100 x 100 x 100 x

80          85       80

2.786,75 l/s = 4.553,51 ls

= 4.354   l/s. (dibulatkan)

 

sumber : Materi Kuliah Pengelolaan Air

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: